Perjuangan Menjadi Tukang Cukur Rambut Sukses Seperti Sekarang Harus Kepanasan dan Kehujanan Dulu

tukang cukur rambut
Andre sedang mencukur konsumen

spirit.my.id - Meski pendidikannya hanya sampai kelas 2 SMP, pria ini tak patah semangat dalam melakoni kehidupan. Buktinya, pria bernama In Andreas, sekarang hidupnya terbilang sejahtera dengan profesi sebagai tukang cukur rambut.

Saat bertemu dengan Redaksi, laki - laki yang akrab disapa Iin atau Andre ini, menceritakan kisah hidupnya.

Di tahun 1999, ia membantu pamannya yang sedang  membangun rumah namun setelah selesai, Andre tak mau dibayar dengan uang. Andre minta pada pamannya supaya diberi keahlian mencukur rambut, yang kebetulan pamannya seorang tukang cukur rambut handal.

Pamannya mengabulkan permintaannya. Andre pun mulai belajar cara memotong rambut yang baik dan benar.

Setelah dinilai cukup mahir, Andre dibawa sang Paman ke Bekasi untuk memulai profesi barunya sebagai tukang cukur.

"Ke Bekasi untuk beberapa bulan menjadi tukang cukur keliling di perumahan - perumahan. Jerih payah dari nol disana sebagai tukang cukur, Kepanasan, kehujanan sambil berteriak cukur...cukur...cukur," tutur Andre menceritakan.

Andre bangga dengan profsinya
sebagai tukang cukur rambut

Dari kelilingnya sambil membawa alat cukur, rupiah yang dibawa pulang terbilang antara cukup dan tidak untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari. Namun yang patut dipuji, ia tak memasang harga, seiklasnya.

"Paling sehari 5 kepala 30 ribu. Itu  harga sekeluarga bukan perorang. Misalnya 30 ribu untuk 3 orang yang ada dikeluarga itu," imbuhnya.

Pria kelahiran 1983 itu, mulai meluncur keliling dari jam 7 pagi sampai 5 sore. Langsung pulang ke tempat Pamannya yang sudah punya tempat cukur sendiri. 

"Di tempat Paman, saya diasah lagi. Karena beda keliling sama di tempat, bagaimana cara mengatasi groginya . Kalau di tempat lebih ke mental," terang Andre.

Setelah ada keberanian, Andre mencoba mandiri. Dan benar saja, Andre ditawari kerja sebagai tukang cukur di tempat di Jakarta, hanya setahun. Tapi tak lama kemudian kembali bekerja sebagai tukang cukur di tempat masih di Jakarta dengan tempat yang berbeda.

Berbekal pengalaman mulai dari Jakarta, Tangerang, Banten, Tanjung Priok. Andre merasa belum puas, Ia pun mencari pengalaman lagi.

"Yang paling jauh ke Kalimantan sendirian selama 2 tahun dari 2005 sampai 2007," ucapnya.

Dari deretan perjalanannya, Andre terus terang banyak suka dan duka yang menempanya seperti sekarang.

"Dukanya saya pernah dimarahi aparat Polisi. Tapi saya menyadari kesalahan keteledoran. Cuma dari keteledorasn itu saya terus belajar. Sukanya, kalau sekolah sudah lulus dari halangan, rintangan segala macam tinggal memetik hasilnya," terangnya tersenyum.

Andre bersama istri tercinta

Bapak 2 anak ini terus terang banyak petik pengalaman dari proses perjalanannya. Dan dirinya mengaku bangga berprofesi sebagai tukang cukur karena bisa membuat orang senang.

"Percaya diri karena saya punya kelebihan bisa membuat oang lain senang karena hasil jerih payah sendiri," ujarnya.

Terlepas itu rupanya, pemangkas rambut ini, ternyata cukup peduli dengan kondisi anak muda. Menurutnya, rata - rata anak muda jaman now lebih suka bekerja dibanding usaha sendiri.

"Sekarang jaman sangat sulit, kita kerja di pabrik kena phk, kerja di pabrik, pabriknya bangkrut. jadi satu - satunya kita harus punya keahlian yang ada di diri kita karena keahlian tidak akan hilang sampai kapanpun juga bisa diturunkan pada anak cucu bahkan pada anak yang putus sekolah," tandasnya.

Terakhir, Andre, titip salam buat sohib - sohib pemangkas rambut di manapun juga.

"Untuk teman - teman tukang cukur dimana aja semoga makin maju dan lebih profesional lagi," pungkasnya.

Andre kini memiliki pangkas rambut sendiri bernama Anugerah, di daerah Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.

Selain itu, sang pemangkas rambut ini, gemar menyanyi dan sudah mengeluarkan singlenya berjudul "Banyu Resmi" karya cipta Abah Ono.

(Res)

 


 


Post a Comment for " Perjuangan Menjadi Tukang Cukur Rambut Sukses Seperti Sekarang Harus Kepanasan dan Kehujanan Dulu"